Bagi Kami Amalan Kami, Bagi Kamu Amalan Kamu

amaluna amalukum

Amaluna amalukum yang artinya bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu. Perselisihan pendapat di antara manusia adalah hal yang lumrah, demikian juga di antara kaum Muslimin. Karena hal itu memang merupakan tabi’at manusia. Yang terpenting adalah menyikapi perselisihan sesuai dengan perintah Allah Azza wa Jalla , yaitu dengan mengembalikan segala perkara yang diperselisihkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jangan sampai perselisihan menjadi sebab perpecahan yang diharamkan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri (ulama dan umaro’) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [An-Nisa’/4: 59]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata, “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan (kita) untuk mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya. Allah mengulangi kata kerja (taatilah!) sebagai pemberitahuan bahwa mentaati Rasul-Nya wajib secara otonomi, dengan tanpa meninjau ulang apa yang beliau perintahkan dengan al-Qur’an. Jika beliau memerintahkan, wajib mentaatinya secara mutlak, sama saja, apakah yang beliau perintahkan itu ada dalam al-Qur’an atau tidak ada di dalamnya. Karena sesungguhnya beliau diberi al-Kitab dan yang semisalnya bersamanya”. [I’lamul Muwaqqi’in 2/46), penerbit: Darul Hadits, Kairo, th: 1422 H / 2002 H]

Beliau rahimahullah juga berkata, “Kemudian Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar mengembalikan apa yang mereka perselisihkan kepada kepada Allah dan Rasul-Nya, jika mereka orang-orang yang beriman. Dan Allah Azza wa Jalla memberitakan kepada mereka bahwa itu lebih utama bagi mereka di dunia ini, dan lebih baik akibatnya di akhirnya. Ini memuat beberapa perkara, diantaranya :

  • Bahwa orang-orang yang beriman terkadang berselisih pada sebagian hukum, dan mereka tidak keluar dari keimanan dengan sebab (perselisihan) itu, jika mereka mengembalikan apa yang mereka perselisihkan kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana Allah syaratkan terhadap mereka. Dan tidak ada diragukan lagi bahwa ketetapan yang digantungkan dengan suatu syarat, maka ketetapan itu akan hilang dengan sebab ketiadaan syarat tersebut.
  • Bahwa firman Allah “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu”, meliputi seluruh yang diperselisihkan oleh orang-orang yang beriman dari masalah-masalah agama, yang kecil dan yang besar, yang terang, dan yang samar.
  • Manusia telah sepakat bahwa mengembalikan kepada Allah adalah mengembalikan kepada kitab-Nya, mengembalikan kepada Rasul-Nya adalah mengembalikan kepada diri beliau di saat hidup beliau, dan kepada Sunnahnya setelah beliau wafat.
  • Allah Azza wa Jalla menetap bahwa “mengembalikan apa yang mereka perselisihkan kepada kepada Allah dan Rasul-Nya” termasuk kewajiban dan konsekwensi iman. Oleh karenanya, jika itu tidak ada, makan imanpun hilang. [Diringkas dari I’lamul Muwaqqi’in 2/47-48]

Sikap sebagian umat islam

Ketika umat Islam berpecah belah menjadi banyak golongan, dan masing-masing golongan membanggakan apa yang ada padanya, banyak di antara mereka susah diajak bersatu di atas kebenaran. Sebagian mereka bahkan ketika diajak untuk kembali kepada kebenaran, mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah, mereka membacakan ayat, “Lana a’maaluna walakum a’maalukum (bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu)”. Seolah-olah mereka telah mengikuti al-Qur’an dengan sikapnya tersebut. Alangkah aneh sikap mereka itu, menyelisihi al-Qur’an dengan dalil ayat al-Qur’an. Tentu dengan pemahaman yang bertentangan dengan maksud al-Qur’an.

Perkataan itu untuk orang-orang kafir

Jika kita memperhatikan al-Qur’an, maka sesungguhnya ayat yang berbunyi “Lana a’maaluna walakum a’maalukum (bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu)” tidak boleh ditujukan kepada orang Muslim yang mengajak bersatu di atas kebenaran. Sesungguhnya kalimat tersebut terdapat di tiga tempat di dalam al-Qur’an, dan semuanya diucapkan oleh orang-orang yang beriman kepada orang-orang kafir. Dan maksud kalimat itu adalah bara’ (berlepas diri) dari orang-orang kafir dan perbuatan mereka. Inilah tiga ayat tersebut dengan sedikit penjelasan arti dan maksudnya.

1. Ayat Pertama

Allah Azza wa Jalla berfiman :

قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ

Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Rabb kami dan Rabb kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati. [Al-Baqarah/2: 139]

Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang ayat ini, ada yang mengatakan bahwa perkataan ini ditujukan kepada Ahlul Kitab, ada juga yang mengatakan bahwa perkataan ini ditujukan kepada orang-orang musyrik. Tetapi mereka bersepakat bahwa ayat ini ditujukan kepada orang-orang kafir.

Imam Al-Baghawi berkata, “Firman Allah “Katakanlah” wahai Muhammad Shallallahu‘alaihi wa sallam kepada orang-orang Yahudi dan Nashara, “Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah”, yaitu tentang agama Allah, perdebatan ini adalah perdebatan tentang agama Allah untuk memenangkan hujjah (argumen). Yaitu mereka mengatakan ‘Sesungguhnya semua para Nabi adalah dari kami dan di atas agama kami, dan agama kami lebih lurus, maka kami lebih dekat kepada Allah daripada kamu (umat Islam)’.

Maka Allah Azza wa Jalla berfirman :

لْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ

Katakanlah: ‘Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Rabb kami dan Rabb kamu’, yaitu kami dan kamu sama (tidak ada bedanya) di hadapan Allah, karena Dia adalah Rabb kami dan Rabb kamu, ‘bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu’, yaitu setiap orang mendapatkan balasan amalannya, maka bagaimana kamu mendakwahkan bahwa kamu lebih dekat kepada Allah? ‘dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati’, sedangkan kamu orang-orang yang menyekutukan dengan-Nya”. [Tafsir al-Baghawi, 1/157]

2. Ayat Kedua

Allah Azza wa Jalla berfiman :

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”. [al-Qashshash/28: 55]

Imam Ibnu Katsir (6/245) rahimahullah berkata, “Firman Allah (yang artinya) ‘Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya’, yaitu mereka tidak bercampur dan bergaul dengan para pelakunya, bahkan sebagaimana firman-Nya :

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. [al-Furqan/25: 72]

Firman Allah ‘Dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”.

Yaitu jika ada orang bodoh membodohkan mereka dan mengucapkan kepada mereka perkataan yang tidak pantas dijawab, mereka berpaling darinya, dan mereka tidak membalas dengan perkataan keji atau buruk yang serupa dengannya. Dan tidak muncul dari mereka kecuali perkataan yang baik.

Oleh karena itu, Allah berfirman tentang mereka, bahwa mereka mengatakan: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”. Yaitu: Kami tidak menginginkan dan tidak menyukai jalan orang-orang bodoh”. [Tafsir Ibnu Katsir, surat al-Qashshash/28: 55]

Kemudian imam Ibnu Katsir menukilkan riwayat dari Ibnu Ishaq dalam kitab sirahnya, bahwa mereka ini adalah orang-orang Nashara dari Habasyah yang mengucapkan perkataan tersebut kepada orang-orang kafir Quraisy. Namun ada juga yang berpendapat bahwa mereka adalah orang-orang Nashara dari Najran. Dan ada juga yang berpendapat bahwa ayat ini turun berkaitan dengan raja Najasyi dan para pengikutnya.

Intinya, ayat ini menjelaskan perkataan orang-orang Nashara yang telah masuk Islam kepada orang-orang kafir yang mencela keislaman mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Mujahid, “Ayat ini turun tentang sekelompok orang dari Ahli Kitab yang masuk Islam lalu mereka diganggu”. [Tafsir al-Baghawi, 6/214]

3. Ayat Ketiga

Allah Ta’ala berfiman :

فَلِذَٰلِكَ فَادْعُ ۖ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ ۖ وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ ۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ ۖ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ ۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ ۖ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا ۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

Oleh karena itu, serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah [istiqamahlah] sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah-lah Rabb kami dan Rabb kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)”. [QS. Asy-Syura/42: 15]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman Allah (yang artinya) ‘Oleh karena itu serulah’, yaitu serulah manusia kepada agama yang telah Kami wahyukan kepadamu, agama yang telah Kami wasiatkan kepada semua Rasul sebelummu, para Rasul yang memiliki syari’at-syari’at besar yang dikuti, seperti ulul azmi dan lainnya.

Firman Allah (yang artinya) ‘dan tetaplah (istiqamahlah) sebagai mana diperintahkan kepadamu’, yaitu hendaklah engkau dan para pengikutmu istiqomah melaksanakan ibadah kepada Allah sebagaimana diperintahkan kepadamu’

Firman Allah (yang artinya) ‘dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka’, yakni jangan mengikuti penyembahan berhala-berhala yang dibuat-buat secara dusta oleh orang-orang musyrik.

Firman Allah ‘dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah’, yaitu aku membenarkan semua kitab yang diturunkan dari langit kepada Nabi-Nabi, kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka.

Firman Allah (yang artinya) ‘dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu’, yaitu di dalam menghukumi, sebagaimana Allah perintahkan kepadaku.

Firman Allah (yang artinya) ‘Allah-lah Rabb kami dan Rabb kamu’, yaitu Dia Yang berhak diibadahi, tidak ada Tuhan Yang berhak diibadahi selain Dia. Kami mengakui hal itu dengan sukarela, dan walaupun kamu tidak melakukannya dengan sukarela, tetapi siapa saja yang ada di dunia ini bersujud kepadaNya dengan terpaksa atau sukarela.

Firman Allah (yang artinya) ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu’, yaitu kami berlepas diri dari kamu, sebagaimana firmanNya :

وَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ لِي عَمَلِي وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ ۖ أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

Jika mereka mendustakan-mu, maka katakanlah: “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan”. [Yunus/10: 41]

Firman Allah (yang artinya) ‘Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu’, Mujahid berkata, “Tidak ada pertengkaran”. As-Suddi berkata, “Itu sebelum turun ayat saif (ayat yang memerintahkan jihad perang)”. Perkataan ini tepat, karena ayat ini turun di Makkah (sebelum hijrah), sedang ayat saif setelah hijrah”. [Tafsir Ibnu Katsir, 7/195]

Kesimpulan

Jadi perbedaan pendapat sesama muslim haruslah dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Sekiranya seseorang muslim mengucapkan kalimat lanaa a’maalunaa walakum a’maalukum,  kepada saudaranya sesama muslim maka berarti dia telah meletakkan ayat   bukan pada tempat yang semestinya. Ayat yang seharusnya ditujukan untuk orang kafir lalu ditujukan kepada saudara sesama muslim. Itu berarti secara tidak langsung dia merasa berhadapan dengan orang kafir padahal dia sedang berhadapan dengan saudaranya sesama muslim.

Ayat-ayat tersebut semakna dengan ayat:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku [al-Kafirun/109: 6]

Semoga Allah selalu membimbing kita di atas jalan yang lurus, menganugerahkan keikhlasan niat dan kebenaran amalan, sesunggunya Allah Maha Mendengar doa dan berkuasa mengabulkannya.

Oleh karena itu wajiblah bagi kita semua untuk menempatkan ayat sesuai makna yang dimaksud oleh ayat tersebut yakni sebagaimana penjelasan ulama ulama ahli tafsir. Sesungguhnya ayat-ayat tersebut merupakan pernyataan bara’ (berlepas diri) dari kekafiran dan orang-orang kafir, bukan pernyataan toleransi di dalam perselisihan, wallahu a’lam.

Referensi

Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari – majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVI/1433H/2012.
Azwir B. Chaniago – Semua Ada Hikmah

Tinggalkan Balasan