Blog

Bicara Kemerdekaan Pers

Isu kemerdekaan memang tidak ada habis-habisnya jika dibahas. Kita sebagai manusia tidak dapat menentukan bagaimana kemerdekaan yang sesungguhnya. Karena di setiap hal yang kita lakukan, bertabrakan dengan hak orang lain. Begitu pula dengan kemerdekaan pers. Tapi definisi kemerdekaan pers bukanlah bebas yang benar-benar bebas. Namun, bebasnya pers adalah bukan berarti bisa bertindak seenaknya saja. Pers memiliki tugas untuk mewujudkan kedaulatan rakyat berdasarkan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum. Pers juga harus “bebas” dari kapitalisme dan poitik. Mengapa saya beri tanda kutip? Karena hampir mustahil semua pers yang ada dapat bebas dari kapitalisme dan politik, walau tetap ada yang benar-benar bebas dan memegang teguh prinsip pers.

Dalam Jurnal Dewas Pers Edisi 12 (2016), kemerdekaan pers mencakup dua hal: Freedom Form dan Freedom To. Freedom Form maksudnya adalah, kemerdekaan pers dipahami sebagai kondisi yang diterima media bahwa pers sebagai hasil dari struktur tertentu. Sedangkan Freedom To adalah kemerdekaan pers diukur dari bagaimana cara pers memanfaatkan kemerdekaannya tersebut, apakah pers yang dimaksud sudah memenuhi tujuan dan kewajiban pers, atau malah melenceng dari tujuan pers yang utama yaitu mewujudkan kedaulatan rakyat.

Ada setidaknya tiga kewajiban pers, yaitu, menjunjung tinggi kebenaran, privasi individu atau subjek tertentu, dan prinsip bahwa apa yang diwartakan atau diberitakan dapat dipertanggungjawabkan. Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers menyatakan tanggungjawab pers ada lima hal. Yakni, pers memainkan peran penting dalam masyarakat modern sebagai media informasi, pers wajib memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat, pers wajib menghormati asas praduga tak bersalah, pers dilarang memuat iklan yang merendahkan martabat suatu agama dan/atau melanggar kerukunan hidup antar umat beragama, dan yang terakhir adalah pers dilarang memuat iklan minuman keras, narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya.

Pada kenyataan, pada tahun 2016, indeks kemerdekaan pers yang dihasilkan dan digunakan lembaga-lembaga asing menempatkan Indonesia di posisi yang relatif belum baik. Reporter Sans Frontiere, di tahun 2016 menempatkan Indonesia di posisi 130 dari 180 negara. Freedom House, di tahun 2016 menempatkan Indonesia di posisi 82 dari dari 133 dengan kategori masih di level menengah-bawah dalam kemajuan social (Social Progress). Committee to Protect Journalists (CPJ) pada bulan Juni, 2016, mengkompilasi data wartawan yang terbunuh dari tahun 1992 ada lebih dari 1195 jurnalis dibunuh.

Pers adalah yang paling dahulu dan paling banyak menikmati reformasi semenjak reformasi besar-besaran yang terjadi pada tahun 1998. Dibanding dengan institusi publik lainnya, pers adalah yang paling cepat menemukan kembali peran naturalnya, karenanya pers saat ini yang paling tinggi mendapatkan kepercayaan publik.

Kemerdekaan pers merupakan wujud individual dan political rights, seperti hak mengeluarkan pemikiran, pendapat, hak kemerdekaan berkomunikasi, hak memperoleh informasi. Dan kemerdekaan hanya akan ada apabila ada kemerdekaan (liberté), persamaan (egalité), dan rasa saling memiliki (fraternité). Tidak ada demokrasi tanpa keberagaman. Pers sangat besar peranannya dalam menjamin dan aktualisasi demokrasi. Selain menjalankan fungsi kontrol, peran besar pers dalam demokrasi sebagai, komunikator rakyat (publik) terhadap penyelenggara negara dalam berdemokrasi. Peran ini makin penting dalam demokrasi yang bukan saja dalam kenyataan hanya dijalankan sekelompok kecil orang melainkan demokrasi yang makin elitis.

Kembali lagi ke kemerdekaan pers. Perlu diakui, kemerdekaan pers sendiri berorientasi pada perspektif internal pers itu sendiri. Manusia acapkali memanfaatkan kelemahannya sendiri seperti keinginan untuk mendapat penghormatan secara berlebihan, termasuk pers dalam mengarungi kemerdekaan pers.

Kisah Pohon Tua

Pohon tua itu punya banyak kisah. Umurnya setara dengan kemerdekaan Indonesia, 75 tahun. Pohon tua itu adalah saksi bisu sejarah yang terjadi di sekitar. Pohon tua itu juga adalah pelaku sejarah.

Ia memberikan kesejukan sekitarnya. Menjadi tempat berteduh bagi manusia. Tempat bersandar ketika lelah. Tempat hidupnya tupai-tupai dan bertenggernya burung beserta sarang dan anak-anaknya.

Belum lagi serangga kecil yang jumlahnya tak terhitung semenjak tumbuhnya pohon tua itu. Menciptakan ekosistem kecil, memberikan kehidupan di sekeliling.

Pohon tua itu tidak selalu bahagia. Kadang ada yang melukainya, disengaja maupun tidak. Tertabrak kendaraan, digores oleh bocah, dicabuti daunnya, dijadikan tempat sampah, tempat dibuangnya air (bukan kotoran).

Kadang jika sudah terlalu lebat, pohon tua itu dipangkas daunnya karena terlalu menutupi papan reklame yang ada di sana.

Setiap minggunya poster yang ditempel di pohon tua itu berganti, Sedot WC, Badut Ulang Tahun, bahkan poster nakal pun pernah menempel di pohon tua itu.

Misinya hanya satu, terus tumbuh dan bermanfaat. Pohon tua itu tahu hidup akan memperlakukannya seperti apa. Pohon tua itu tahu bagaimana menanggapi itu semua, menangani itu semua.

Filosofi pohon, tetap tumbuh walau banyak rintangan, menyerap yang ada dan menciptakan beraneka ragam, selalu berenergi positif hingga mati.

Nantinya, pohon tua itu akan dikenang dengan baik, dirindukan keberadaannya.