Flores berada di provinsi Nusa Tenggara Timur. Flores merupakan gugusan Kepulauan Sunda Kecil bersama Bali dan Nusa Tenggara Barat. Luas wilayah tersebut sekitar 14.300km2. Flores  termasuk  daerah yang kering dengan curah hujan yang rendah.  

Nama Flores berawal dari bahasa Portugis, yaitu Cabo de Flores’ yang artinya Tanjung Bunga. Nama tersebut diberikan oleh S.M. Cabotunduk. Kemudian diresmikan oleh Hendrik Brouwer (Gubernur Jenderal Hindia Belanda) sejak tahun 1636.

Penggunaan Bahasa di Flores

Flores dikenal dengan multibahasanya, seperti; bahasa Werana, bahasa Rembong, bahasa Rajong, dan bahasa Manggarai. Masing-masing bahasa tersebut hanya bisa digunakan oleh satu kelompok suku. Bahasa Indonesia adalah alternatif masyarakat Flores untuk memperlancar komunikasi antar suku dengan yang lainnya. Hal tersebut diciptakan agar dapat menciptakan privasi dan meminimalisasikan peperangan per-suku.

Contoh, bahasa Manggarai hanya bisa dimengerti oleh orang kelompok Manggarai saja. Jika ada perdagangan antara kelompok Werana dengan kelompok Manggarai, maka mereka akan menggunakan bahasa Indonesia.

Sistem Kepercayaan

Religi asli masyarakat Flores adalah kepercayaan kepada roh nenek moyang. Roh tersebut dianggap menempati alam sekeliling tempat tinggal manusia. Mereka percaya adanya Dewa Tertinggi (Dewa Matahari – Dewa Bulan – Dewa Bumi). Selain itu, sebagian masyarakat Flores juga menganut agama Katolik, Islam, dan Kristen.

Sistem Kemasyarakatan

Dalam masyarakat sub-sub suku di Flores yang kuno ada suatu sistem stratifikasi sosial kuno, yang terdiri dari tiga lapisan. Dasar dari pelapisan-itu adalah keturunan dari klen-klen yang dianggap mempunyai sifat keaslian atau sifat senioritet. Biasanya ada tiga lapisan sosial. Pada orang Manggarai misalnya terdapat tiga lapisan diantaranya :

  1. Lapisan Orang Kraeng (Kelas Atas)
  2. Lapisan Orang Ata Lehe (Kelas Menengah)
  3. Lapisan Orang Budak (Kelas Bawah)

Mata Pencaharian

Salah satu mata pencaharian suku Flores adalah berladang. Mereka menggunakan sistem gotong royong dalam hal membuka ladang di dalam hutan. Aktivitas itu sendiri dari memotong dan membersihkan belukar bawah, menebang pohon-pohon, dan membakar daun-daunan. Tanaman pokok yang di tanam di ladang-ladang adalah jagung dan padi.

Beternak juga merupakan salah satu mata pencaharian suku Flores. Hewan piaraan yang terpenting adalah kerbau. Binatang ini tidak dipiara untuk tujuan ekonomis tetapi untuk membayar mas kawin, upacara adat, dan menjadi lambang kekayaan serta gengsi.

Selain itu kuda juga merupakan hewan piaraan yang penting. Kuda dipakai sebagai binatang tenaga memuat barang atau menghela. Di samping itu kuda juga sering dipakai sebagai harta mas kawin. Kerbau dan juga sapi dimasukkan ke dalam kandang umum dari desa dan digembala di padang-padang rumput yang juga merupakan milik umum dari desa.

Upacara Adat Flores

  • Upacara Adat Reba Ngada

Adalah salah satu bentuk rasa syukur masyarakat Ngada yang ditujukan bagi leluhurnya. Ubi menjadi hidangan utama dalam upacara adat ini. Bagi masyarakat Ngada, ubi merupakan sumber makanan yang tidak akan habis disediakan oleh bumi. Sehingga, dari sini diharapkan masyarakat Ngada tidak akan pernah mengalami rawan pangan. Kata Reba jika dihubungkan dengan bahasa melayu memiliki makna “ribut”, dan ribut berarti angin topan.

  • Ritual Peting Ghan Nalun Weru

“Peting” artinya syukuran, “ghan” artinya makan, “nalun” artinya nasi dan “weru” artinya baru. Jadi apabila “Peting Ghan Nalun Weru” diterjemahkan berarti “Syukuran tahunan untuk makan nasi baru pasca panen padi”. Sesungguhnya ritual ini memiliki makna menghormati alam semesta yang sudah memberi rezeki kehidupan berupa padi yang ditanam di ladang serta leluhur yang ikut menjaga ladang serta Sang Pencipta Kehidupan yang memberikan hasil panen padi yang berlimpah.

  •  Ritual Wei Gere Lewo

Ritual ini digelar saat warga desa berhasil mengalirkan air dari mata air ke kampung. Sebelum ritual adat digelar, masyarakat Adonara belum berani mengkonsumsi air karena mereka berkeyakinan, air yang belum diresmikan secara adat membawa malapetaka bagi diri dan keluarganya.

Seluruh masyarakat Adonara punya keyakinan, air adalah jelmaan leluhur perempuan yang harus dihormati. Ritual adat penjemputan pun dilakukan perempuan. Air dan perempuan bagi masyarakat Adonara adalah sumber kehidupan yang harus dilindungi dan dijaga hingga akhir hayat. Saat hari digelarnya ritual adat, seluruh masyarakat desa berkumpul di rumah adat kepala suku dan semua aktivitas lain dihentikan.

Konflik Asimilasi Budaya Flores

Budaya orang Flores memiliki tingkat toleransi untuk kelompoknya dalam hal adanya orang dari luar kelompoknya yang ingin “masuk” kedalam kelompoknya. Namun toleransi tersebut harus dibarengi dengan prasayarat yang harus dipenuhi oleh “orang baru” tersebut.

Hal ini biasanya terjadi melalui perkawinan beda suku. Namun sering dapat memicu konflik apabila tidak terpenuhi aturan adat seperti belis (mahar) yang jumlah dan bentuknya bisa sangat sulit untuk dipenuhi.

Misalnya seorang laki-laki dari Maumere (Sikka) ingin meminang/melamar gadis dari Manggarai (Ruteng) maka laki-laki dan keluarganya harus memenuhi persayaratan belis (mahar) berupa:

  • Kerbau dengan jumlah 50 ekor (1 ekor kerbau sekarang harganya 10 juta), emas 50 gram, gading 5 batang, dang uang 50 juta. Beratnya beban belis (mahar) sehingga banyak sekali perempuan di wilayah Flores yang menjadi “perawan tua” atau “kawin lari” (silaki-laki nekat membawa kabur gadis yang ditaksirnya, setelah punya anak barulah diurus ritus rekonsiliasi yang ketentuannya bisa lebih berat atau ringan sesuai dengan hasil negosiasi antara kedua suku atau kedua keluarga)
  • Gender issue menjadi isu yang menarik ketika kita “membaca” budaya orang Flores. Secara dominan konsep masculinity menyebar hampir di semua wilayah budaya di Flores. Namun pada beberapa tempat tertentu, seperti di Flores bagian Barat (khususnya di Nagekeo dan beberapa suku tertentu di Flores bagian Tengah) menganut konsep femininity.
  • Setiap suku pada budaya orang Flores memiliki sistem makna yang khas untuk konsep masculinity dan femininity. Misalnya simbol “tanduk kerbau” untuk menyatakan kekuasaan kaum laki-laki pada suku tertentu di Flores. Semakin banyak tanduk kerbau yang terdapat pada rumah adat, semakin tinggi kekuasan kelompok suku tersebut. Selain itu simbol “corak atau motif tenunan” menunjukkan bahwa seorang perempuan pantas dihargai dalam budaya yang sistem kekerabatannya bersifat patrilineal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *