Bowties, apron, headgear. Perlengkapan seragam itu dikenakan oleh Adriana dengan rapih dan cantik di dirinya. Bibirnya yang merah membuat penampilannya semakin mempesona. Tak perlu peralatan make up untuk meriasi wajahnya. Kecantikan autentiknya membuat dirinya terlihat bersinar. Tak heran bila Adriana mendapatkan sambutan manis seperti dirinya oleh partner crewnya, Raisya.

Raisya adalah senior Adriana di Blossom Cupcakes. Raisya dicap gadis yang lembut, murah senyum, dan penyabar di toko itu. Hal yang pertama Adriana lakukan ialah, ia harus menghafal semua jenis cupcake yang terletak di showcase. Karena hari ini adalah hari pertama Adriana bekerja, Raisya membimbingnya dengan teliti dan tak luput dengan senyumannya. Cupcakes yang tersusun simetris dan colorful itu membuat penghafalan Adriana cepat. Tak hanya cupcakes, di toko itu juga menyediakan beberapa minuman chiller, shaken ice, dan hot.

Pekerjaan yang menarik itu membuat Adriana siap bekerja dan melayani pelanggan dengan keramahan-tamahnya. Daya pengingat yang tajam dan tangan yang lihai itu membuat Adriana mendapatkan pujian dan kepercayaan dari atasannya, Bu Kina. Bu Kina adalah supervisor di toko itu. Dia selalu mengawasi dan mengontrol seluruh karyawannya. Tak hanya karyawan, seluruh item yang tersedia di toko dicermati secara teliti. Standart Operation Procedure di Blossom Cupcakes memang sangat terstruktur, tak heran bila banyak pengunjung yang membeli.

Adriana’s Action

   “Hello.. Welcome to BC, silahkan ka..” sapaan elegan Adriana membuat pelanggan impresif. “Oh hello! Aku…. hmm mau yang mana ya??” jawab pelanggan itu dengan bola matanya yang sedang mencari-cari cupcakes yang akan dipilihnya. “Mungkin kaka suka yang Orange Custard? ini lezat, di dalamnya ada jeruk mandarin fla, di atasnya dilapisi vanilla cream yang tidak begitu manis, dan ditaburi bubuk kayu manis.” Adriana menyarankan cupcakes limited itu di tokonya kepada pelanggan. Keputusan pelanggan itu pun akhirnya berakhir cepat atas trik pemasarannya Adriana dan segera melakukan pembayaran.

Di sore hari, Adriana tak lagi melayani pelanggan yang hendak membelinya. Adriana ingin mencoba membuat minuman layaknya seorang barista. Jarak pembuatan minum antara showcase dan kasir tidak berjauhan. Hanya memakan setengah meter saja. Pelanggan yang dilayani oleh Raisya terdengar olehku tanpa harus mengintip wajahnya. “One Coffee Latte Medium with brown sugar. Sorry, umm less sugar.”

Gadis yang mempesona itu membuat para crew lainya tambah mempesona dengan tenaga yang dikeluarkan saat menarik portafilter yang akan digrinding hingga proses extracting. Saat Adriana menggunakan steam wand, dia menggunakan kelihaiannya seakan-akan dia telah berpengalaman. Ketelitian saat proses steaming menghasilkan suhu susu yang tepat. Lantas ia melakukan pouring dengan ayunan tangannya naik turun dan menggambar sebuah bunny art.

Memang, gadis berumur yang sangat muda itu belum sama sekali berpengalaman dalam art skill tapi taste yang ia curahkan dalam pembuatan, membuat signature kopi itu terasa lebih khas. Kopi yang berafter taste Nutty dan Lemonede. Namun, tak lupa a litte brown sugar.

~~

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *