Tidak semua feature yang dibuat sama, ada banyak sekali contoh dan jenis feature. Jika kamu berkeinginan untuk berkarir di bidang jurnalisme, kesuksesanmu bisa sangat bergantung pada pengetahuan mengenai perbedaan antara menulis berita langsung (straight news) dan feature.

Pengertian Feature

Feature adalah salah satu karya jurnalistik atau jenis tulisan jurnalistik kecuali berita ataupun artikel opini. Feature adalah pelengkap berita yang dapat saja menjadi sajian utama sebuah media.

Sebuah cerita feature sering kali ditentukan oleh panjang kalimat dan gayanya, bukan pada pokok bahasannya. Komponen penting yang membedakan cerita feature dari berita langsung adalah feature seakan memanusiakan peristiwa dan isu daripada sekadar memberitakan fakta.

Kamu dapat menemukan artikel dengan gaya feature ini di surat kabar, majalah, maupun publikasi online. Feature di majalah misalnya disampaikan dengan gaya yang lebih menghibur atau membangkitkan semangat, menenun sebuah cerita, bahkan ketika menyampaikan berita fakta.

Feature bisa ditulis dalam berbagai format termasuk how to, profile, wawancara, behind the scene, maupun potongan cerita menjelaskan suatu topik.

Sifat dan Karakteristik Feature

Perbedaan yang paling menonjol antara feature dan berita langsung setidaknya terlihat dari beberapa poin berikut :

Waktu: Berita cenderung tepat waktu, melaporkan peristiwa dalam waktu nyata atau mendekati waktu nyata, sedangkan feature tidak tergantung pada waktu.

Gaya bercerita : berita cenderung to the point, menyampaikan laporannya dalam fakta langsung, sedangkan feature lebih banyak menggunakan gaya bercerita yang khas dan menarik.

Panjang kalimat : Walaupun berita bisa saja panjang namun lazimnya pendek hanya beberapa ratus kata saja. Sementara feature biasanya panjang panjang yang seringkali mulai 1.000 hingga 2.000 kata dan terkadang lebih.

Format : Karena berita lebih pendek dan dibuat untuk menginformasikan, maka berita langsung akan menyampaikan tujuan artikel di baris pertama, yang menunjukkan “siapa, apa, kapan, di mana, dan bagaimana” dari topik tersebut. Sebuah feature, ditulis seperti sebuah cerita yang perlu berputar-putar dulu untuk sampai ke inti utama artikel.

Struktur Feature

Setelah mempelajari karkteristik feature, kini kamu harus tahu juga bagaimana struktur atau rancangannya. Secara umum struktur yang harus ada dalam sebuah feature adalah :

Pembukaan

Di sinilah kamu sebagai penulis harus menghubungkan pembaca ke dalam cerita. Sementara berita akan menjelaskan siapa, apa, kapan, di mana dan bagaimana di baris pertama, sebuah cerita feature sering dibuka dengan anekdot, statistik, atau deskripsi.

Mulai paham kan? Sama seperti cerita atau esai apa pun, kamu pun perlu merebut hati pembaca di paragraf pertama ini. Mulailah feature dengan sebuah kejutan sebagai cara untuk menarik perhatian.

Bagaimana kamu akan mengaitkan pembaca ke dalam cerita? Jangan hanya berkonsentrasi pada fakta di paragraf; buat pembaca ingin terus membaca.

Paragraf pembuka juga harus mengatur panggung untuk sisa cerita. Apa atau siapa yang akan difokuskan pada kisah feature tersebut?

Jika kamu berencana untuk membicarakan mengapa pizza adalah makanan favorit, maka kamu harus memberi tahu pembaca terlebih dahulu agar mereka tahu apa yang diharapkan.

Bagian Tengah

Di sinilah inti cerita fitur kamu akan terungkap. Karena kamu sebagai penulis memiliki lebih banyak ruang dibanding menulis berita, di bagian inilah kamu dapat meluangkan waktu untuk menyampaikan informasi dan detail feature.

Paragraf tengah akan mewakili daging dari cerita fitur kamu. Kecuali jika guru atau editor menentukan  jumlah kata yang harus ditulis, tidak ada batasan jumlah paragraf untuk cerita feature ini.

Ingat, ini bukan berita; feature itu lebih rumit namun dengan pembahasan lebih santai. Kamu harus terus melukis gambar untuk pembaca. Narasi harus mengalir dengan lancar dari paragraf ke paragraf, dan seperti semua artikel, feature tidak boleh membosankan.

Terus gunakan fakta atau anekdot yang menarik dalam paragraf-paragraf ini untuk membantu menggambarkan topik. Jika kamu menulis tentang mengapa Peyton Manning adalah pemain soccer favorit kamu maka kamu harus memasukkan semua statistik mengesankan mengenai tokoh ini.

Salah satu cara untuk bercerita tentang Manning yaitu dengan menenun kisah menarik tentang salah satu kemenangannya yang mengesankan. Ingat, kamu sedang melukis gambar dengan kata-kata, sehingga detail sangat penting.

Bagian Akhir

Di sinilah kamu harus menyelesaikan apa yang kamu sampaikan dengan memberikan pelajaran atau kesan emosi bagi pembaca. Buat akhir yang memuaskan sehingga pembaca mengerti bahwa cerita telah mencapai kesimpulan.

Jangan merusak feature kamu yang bagus dengan membiarkannya lepas, atau membuatnya terbebani dengan menjejalkan informasi yang seharusnya ditenun di bagian sebelumnya.

Jenis dan Macam Feature

Setidaknya ada 11 jenis dan macam feature yang harus kamu ketahui dan coba untuk berlatih menuliskannya. Jenis dan macamnya meliputi :

  1. Feature human interest (menyentuh emosi pembaca).
  2. Feature sidebar ( feature human interest sebagai pelengkap berita utama atau menceritakan sisi lain suatu peristiwa).
  3. Feature biografi (menceritakan kisah hidup seseorang yang terkenal).
  4. Feature profile (bisa berisi profil lembaga, organisasi, perusahaan).
  5. Feature perjalanan (menceritakan pengalaman berkesan dari suatu perjalanan yang dilakukan penulis atau orang lain).
  6. Feature penjelasan (menceritakan mengenai apa yang sebetulnya terjadi di balik sebuah kejadian).
  7. Feature sejarah (perihal kejadian di masa lampau, akan tetapi tetap menarik untuk dikisahkan sekarang).
  8. Feature musiman (cerita mengenai peristiwa yang terjadi secara rutin misalnya mudik lebaran).
  9. Feature tren (mengisahkan perihal gaya hidup kelompok tertentu atau masyarakat kebanyakan di waktu tertentu).
  10. Feature tips (disebut juga how-to feature yang menceritakan mengenai bagaimana membuat sesuatu, menangani masalah, atau cara mengerjakan sesuatu).
  11. Feature ilmiah (terkait ilmu pengetahuan dan teknologi yang terlihat dari kedalaman pembahasan maupun objektivitas pendapat yang diceritakan, berlandaskan data dan informasi lengkap).

Prinsip Penulisan Feature

Jika ada kejadian sebuah pipa gas meledak dan ada orang yang lewat mengalami luka-luka, sebuah laporan berita kemungkinan besar akan mengutip jumlah korban yang terluka, sedangkan sebuah feature akan mewawancarai korban dan menyelidiki apakah pemerintah setempat yang bertanggung jawab memelihara pipa gas tersebut bertanggung jawab menanggung biaya pengobatan luka-luka yang dialami korban.

Jadi prinsip dan gagasan di balik feature adalah untuk melangkah lebih jauh dari sekadar menyampaikan berita. Kamu sebagai penulis tidak hanya memberi tahu pembaca tentang apa yang terjadi, kamu pun mesti menjelaskan mengapa itu penting, siapa yang terpengaruh dan menyajikan gambaran besarnya.

Cara Menulis Feature

Menulis feature dimulai dengan dua faktor penting: topik dan berapa banyak ruang yang dapat kamu curahkan untuk itu dalam hal ini jumlah kata yang ingin dituangkan.

Ingat, kamu harus tetap menulis dalam parameter tersebut, yang berarti kamu harus menyeimbangkan antara menawarkan konten yang mendalam sambil tetap dalam batasan kata.

Untuk memberikan wawasan dan latar belakang feature biasanya memerlukan wawancara dan penelitian untuk mengumpulkan informasi. Ketika menulis feature harus diingat bahwa kamu harus bisa menjadi seorang pendongeng.

Itu berarti kamu harus dapat menunjukkan kepada pembaca apa yang terjadi dengan memberi tahu mereka.

Contohnya, sebuah laporan berita mungkin menjelaskan, ”Saksi mata melaporkan bahwa pipa itu pecah pada pukul 1:32,” sementara sebuah feature mungkin ditulis : “Joe Smith sedang mencuci piring makan siangnya dari selai kacang dan roti jelly setiap hari ketika ada sesuatu yang menarik perhatiannya. diluar jendela. Dia mendengar suara keras dan melihat air menyembur laksana geyser.”

Contoh Feature

Di bawah ini ada beberapa contoh feature lengkap dengan jenisnya.

Contoh Feature Human Interest

Sebuah Piala (yang Terlambat) untuk Judy

Contoh Feature Human Interest

Bagi Hollywood Judy Garland adalah segaris pelangi penuh warna yang memberi harapan. Persis  seperti yang dinyanyikan Garland di masa remajanya melalui lagu “Over the Rainbow” dalam film klasik “Wizard of Oz”. Bagi dunia, Judy Garland adalah ledakan gunung api  yang suara emasnya tak tertandingkan.

Di dalam film “Judy” , sutradara Rupert Goold memilih untuk memotret pekan-pekan terakhir aktris/penyanyi legendaris ini. Diawali dengan pertunjukan Judy Garland (Renee Zellweger) di atas panggung yang melibatkan kedua anaknya dari suaminya ketiga, Sydney Luft, kita seolah melihat kehidupan Judy yang gemerlap. Usai pertunjukan, mereka kembali ke hotel mewah yang ternyata  sudah mendepaknya. Dan kita menyadari, Judy Garland, bintang film yang namanya lekat dengan studio besar MGM itu; yang pernah menjadi aktris kaya raya itu; bukan saja sudah bangkrut, tetapi juga sedang dienyahkan oleh Hollywood. Dia terpaksa menitipkan kedua anaknya kepada suaminya Luft (Rufus Sewell), yang sudah berpisah dengannya, sementara Judy yang tak punya rumah itu lantas menghadiri sebuah pesta untuk kemudian berkenalan dengan lelaki berikut yang akan menjadi suaminya.

Film ini mengambil format biopik yang sudah sangat dikenal formula Hollywood. Ambillah bagian tragis sang aikon, pusatkan pada perjuangan dia untuk tetap hidup. Meski si aikon akhirnya tewas (oleh virus ataupun narkoba), jangan perlihatkan kematian itu, karena penonton ingin mengenang sinarnya, bukan gelapnya. Itulah formula yang digunakan film seperti “Bohemian Rhapsody” (Bryan Singer, 2018) dan “Rocket Man” (Dexter Fletcher, 2019).

Tetapi bercerita tentang Judy Garland (lahir tahun 1922 dengan nama asli Frances Ethel Gum) tak bisa tak melibatkan  kegelapan. Sejak usia balita, Judy dan kakak-kakaknya sudah disorong ke atas panggung untuk bernyanyi. Karena sejak kecil suara Judy memang terbalut emas, dialah yang paling menonjol dan sudah disamber oleh studio MGM. Sejak masih belajar membaca itu pula si kecil  Judy sudah dicekoki berbagai pil agar dia bisa bertahan untuk akting di dalam film-film produksi MGM termasuk film “Wizard of Oz” di mana nama Judy Garland remaja kemudian melekat selamanya dengan tokoh Dorothy Gale.

Sutradara Goold jelas  memihak pada Judy Garland. Dalam film ini, Goold menunjukkan bahwa kerusakan tubuh dan jiwa Judy adalah   akibat rakusnya studio dan juga para suami yang betul-betul memperlakukan sang aktris sebagai komoditi. Bos MGM diperlihatkan sebagai sosok yang keji dan tidak manusiawi pada si remaja Garland.Tentu saja ada satu dua suaminya yang betul mencintai Judy, tetapi sutradara Goold memfokuskan pada suaminya yang terakhir yang sangat memanfaatkan sosok aikon Garland untuk duit.

Sementara itu, film ini juga memperlihatkan bagaimana nama Garland yang meteorik karena suaranya yang  menaklukkan panggung dunia itu juga identik dengan sikap diva: Judy selalu terlambat, temperamental (karena diguncang candu obat) dan kehidupan pribadi yang mengganggu pekerjaan. Begitu banyak kritikus yang memujanya dalam film “A Star is Born” namun tak juga membuat anggota Academy menggamjarnya sebagai Aktris Terbaik adalah ‘utang’ Hollywood pada aikon ini.

Judy sangat mencintai anak-anaknya dan sangat terluka karena harus meninggalkan mereka saat mencari duit  di London adalah adegan yang menusuk. “Mari kita bayangkan hidup di dalam lemari ini seolah ini rumah kita,” katanya masuk ke dalam lemari pakaian dan memeluk kedua anaknya. Garland kehilangan rumah karena utang pajak dan utang-utang lainnya, sehingga dia merelakan kedua anaknya menetap (sementara) dengan bapak mereka. Liza Minneli, puterinya dari sutradara Vincent Minnelli sudah dewasa dan mulai menempuh karir seperti ibunya.

Jika Renee Zellweger terus menerus diganjar penghargaan pada musim festival awal tahun 2020, termasuk Golden Globe, BAFTA dan Academy Awards,  tentu saja karena dia berhasil memerankan sang aikon dengan baik. Dia menggunakan suara sendiri (meski tetap tak bisa mencapai vibrasi Garland); dia juga sama sekali tak menggunakan bahan prosthetic untuk menambal wajahnya. Tentu saja Garland versi Zellweger terkadang seperti Zellweger yang memiliki ciri khas memainkan raut wajah; sementara Garland di atas panggung dan di hadapan kamera dikenal sangat ekspresif. Tetapi Zelwegger berhasil menampilkan Garland yang penuh lebam biru dalam jiwanya, seorang ibu yang dijauhkan dari anak-anaknya tetapi terus menerus mengharapkan kebahagiaan dari satu suami ke suami berikutnya.

Adegan akhir yang sungguh mencekam ketika Garland yang tengah menyanyi mendadak terhenti di tengah bait “Over the Rainbow”  karena tak tahan oleh kepedihannya. Bahwa kemudian penonton memberi tanggapan yang mengharukan dengan meneruskan sisa lagu itu bersama-sama tentu saja formula gaya Hollywood untuk membuat kita merasa lega seusai film, dan kematian Garland akibat overdosis obat cukup dituliskan saja dengan teks di layar.

Piala untuk Renee Zellweger tahun ini, seperti yang diutarakan sang aktris, adalah piala (yang terlambat diberikan) untuk Judy Garland.

Sumber contoh feature https://kolom.tempo.co

Contoh Feature Penjelasan

Permainan Kelam Menteri Perdagangan

Contoh Feature Penjelasan

KERAGUAN sejumlah kalangan bahwa proses pemilihan anggota Kabinet Indonesia Maju tidak dilakukan secara cakap dan teliti kini menuai bukti. Kekacauan dalam pelaksanaan tugas di beberapa kementerian pada enam bulan pertama usia kabinet mulai terkuak.

Salah satunya Menteri Perdagangan Agus Suparmanto. Politikus Partai Kebangkitan Bangsa ini diduga pernah terlibat patgulipat bisnis dengan perusahaan negara dan dilaporkan ke Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI. Di tengah jalan, kasus itu berhenti dengan alasan tidak cukup bukti. Oleh polisi, Agus tidak pernah dimintai keterangan.

Investigasi majalah ini menemukan jejak Agus dalam transaksi lancung PT Yudistira Bumi Bhakti saat memperoleh proyek penambangan dan pengangkutan bijih nikel di area konsesi milik PT Aneka Tambang Tbk di Tanjung Buli, Kabupaten Halmahera Timur, pada 2001-2014.

Yudistira Bumi Bhakti awalnya adalah perusahaan milik Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Yulius Isyudianto. Pada 2000, Agus melalui perusahaannya, PT Mitrasysta Nusantara, menjadi salah satu pemodal dan menjadikan Yudistira Bumi Bhakti sebagai kendaraan untuk memenangi tender proyek dari Aneka Tambang. Meski menjadi bohir, nama Agus tidak tercantum dalam akta perusahaan.

Pada 2001, Yudistira Bumi Bhakti menang tender proyek di Tanjung Buli itu dengan masa kontrak hingga 2004. Ketika kontrak habis, direksi Aneka Tambang kembali menunjuk langsung Yudistira Bumi Bhakti sebagai pelaksana proyek penambangan dan pengangkutan bijih nikel, dalam lima periode, hingga 2014. Selain prosedur mendapatkan proyek itu terindikasi melanggar aturan, Yudistira Bumi Bhakti diduga mendapat harga spesial sehingga memperoleh untung di atas kewajaran.

Praktik bisnis ganjil ini pernah menjadi temuan auditor internal Aneka Tambang pada 2009. Audit itu mendapati jumlah konsumsi bahan bakar minyak pada kontrak kerja sama yang jauh lebih tinggi dibanding konsumsi BBM yang digunakan Yudistira Bumi Bhakti pada 2007 dan 2008. Tak hanya itu, Badan Pemeriksa Keuangan pada audit 2012 menilai Aneka Tambang tidak berhati-hati dalam menjalin kerja sama dengan Yudistira Bumi Bhakti.

Namun pelbagai temuan internal dan lembaga auditor negara itu diabaikan pemegang saham. Mereka yang ditengarai melanggar tidak tersentuh hukum, malah terus menjabat-bahkan kerja sama tersebut terus berlangsung hingga 2014.

Kongsi lancung ini sulit diterima akal sehat. Perusahaan negara bidang pertambangan menjalin bisnis dengan perusahaan antah-berantah di bidang yang semestinya sudah dikuasai Aneka Tambang selama bertahun-tahun. Praktik bisnis ini bisa dicurigai merupakan rekayasa keuanganuntuk melegalkan upaya penjarahan aset negara.

Dugaan praktik lancung Agus melengkapi sejumlah polemik tentang kebijakan yang pernah diambilnya. Contoh paling anyar adalah saat terjadi kelangkaan gula yang berdampak pada melambungnya harga bahan kebutuhan pokok itu. Agus ditengarai tak kunjung meneken permohonan impor gula, seperti yang sudah diputuskan rapat Menteri Koordinator Perekonomian.

Penegak hukum harus bergerak cepat menelusuri perkara Aneka Tambang. Presiden Joko Widodo tidak boleh meremehkan persoalan ini karena kini ia mempertaruhkan kepercayaan publik kepada pemerintah dan kinerja Kementerian Perdagangan yang dipimpin Agus.

Jokowi tidak boleh tersandera oleh politik balas budi. Sudah lama menjadi omongan: terpilihnya Agus sebagai Menteri Perdagangan pada Oktober 2019 merupakan imbalan atas dukungan Partai Kebangkitan Bangsa, partai asal Agus, dalam pemilihan presiden. PKB salah satu partai pengusung Jokowi.

Sulit untuk percaya bahwa Jokowi tak tahu latar belakang calon menterinya. Seperti pada awal periode pertama pemerintahannya, ia mengecek setiap detail riwayat calon sebelum menetapkan sebagai menteri. Karena itu, terpilihnya Agus besar kemungkinan lebih banyak didasari pertimbangan menjaga perimbangan kekuatan partai-partai pendukung Jokowi. Meski sempat jadi kasak-kusuk, terlalu berlebihan mencurigai partai penyokong “menjajakan” jatah menteri kepada kandidat yang bisa memberikan imbalan ekonomi kepada partai dan oknum pimpinan partai.

Tanpa kehendak memperbaiki kabinetnya, pemerintah Jokowi akan terseok-seok menghadapi pelbagai tantangan-termasuk pandemi Covid-19 dan dampak ekonomi yang mengikutinya. Tanpa menyadari bahwa ia telah salah langkah dalam penyusunan kabinet, Jokowi akan terus terjerembap dalam pemerintahan yang kehilangan kredibilitas.

Sumber contoh feature https://kolom.tempo.co

Contoh Feature Sejarah

Entah

Mungkin seseorang perlu membuat sejarah “Entah”. Kata ini berpusar, tak jarang dalam bisik-bisik, tiap kali manusia merasa terasing dari dunia-ketika datang Maut, Kelaparan, Perang, dan Sampar, “Empat penunggang Kuda Malapetaka”.

Penyakit yang kini berjangkit dari tempat ke tempat jauh berbeda skala dengan wabah-wabah di zaman dahulu, tapi kembali Entah menyembul ke depan. Mari kita tengok: catatan Marchionne di Coppo Stefani tentang wabah pes dahsyat yang menyerang Firenze di tahun 1348 adalah ungkapan Entah yang menggores.

Wabah itu demikian ganas dan cepat hingga di rumah-rumah yang terkena, para pelayan yang melayani si sakit meninggal oleh penyakit yang sama. Hampir semua yang terserang mati dalam waktu kurang dari empat hari. Baik tabib maupun pengobatan tak berpengaruh. Tampaknya tak ada cara menyembuhkan, entah karena penyakit ini sebelumnya tak dikenal, entah karena para tabib belum pernah menelaahnya….

Di hari-hari yang menakutkan itu, wabah membinasakan Eropa, dan ketika Entah berkecamuk, orang-orang menghentikannya dengan kesimpulan mengerikan: Stop Entah. Sudah ditemukan jawabnya: pembawa sampar adalah orang Yahudi!

Orang Yahudi, demikian didesas-desuskan, menyebarkan racun dari jeroan katak yang dicampur dengan minyak dan keju. Orang-orang Kristen meyakini “penjelasan” itu. Meskipun Paus melarang kekerasan, pada 14 Februari 1349 di Kota Strasbourg, 2.000 orang Yahudi ditelanjangi dan dibantai. Di Mainz, 3.000 orang. Tapi Entah tetap kembali dan tetap dicoba dibungkam dengan pelbagai cara.

Sampai datang zaman modern, ketika Entah mulai tampak terdesak. Ia yang menyebabkan rasa takut tak menentu mulai diganti. Rasa cemas mulai punya penjelasan. Dongeng ditinggalkan, takhayul tersingkir. Demikianlah semangat Aufklärung menyimpulkan: manusia mampu dan harus berani membebaskan dari apa yang dinamai Kant sebagai “selbstverschuldeten Unmündigkeit”, ketidakdewasaan yang ditumbuhkan diri sendiri. “Unmündigkeit” ditandai ketidakberanian menggunakan akal, intelek, dan kearifan sendiri. Orang tak dewasa karena selalu butuh dibimbing tatanan sosial, agama, dan penguasa. Orang tak dewasa karena ia tak mencari jalan sendiri untuk membereskan Entah.

Sejak “abad panjang ke-18”, Eropa memulai semangat Pencerahan ini, yang juga disebut “Zaman Nalar”, Age of Reason.

Tak berarti hanya bangsa-bangsa di sekitar Jerman, Prancis, Inggris yang memulai itu, dengan melaksanakan Sapere Aude! (Beranilah untuk Mengetahui!) dan meletakkan nalar di posisi penting dalam hidup mereka. Orang Yunani sebelum tarikh Masehi dan para ilmuwan di dunia Islam di abad ke-8 sudah lebih dulu merintis jalan melepaskan diri dari Entah-juga tentang wabah. Al-Majusi (933-1000), misalnya, menggambarkan wabah dalam Kitab al-Malaiyy. Ia melihat sebab wabah dari “udara yang berpenyakit” (hawawab’i)-bukan dari konspirasi Iblis atau Yahudi.

Kemampuan analisis tentang sebab dan akibat-yang merupakan kemampuan nalar penting untuk menghadapi Entah. Manusia bergerak maju dari ketidaktahuan. Yang tak diketahui berubah menjadi sekadar problem: sesuatu yang dilemparkan ke depan manusia untuk dipecahkan dan diterobos.

Tapi tak selamanya berhasil, tak selamanya bertahan dan tak selamanya membuat hidup lebih baik. Nalar, “reason”, berkembang memecahkan problem. Problem bukan hanya transformasi dari Entah, melainkan mempersempitnya, sebagaimana akal adalah perubahan yang membuat kapasitas nalar jadi seperti sinar laser: terang, kuat, efisien-tapi sempit. Ia menguasai yang-Lain, apa yang bukan dirinya.

Dunia modern dan akal adalah kehidupan ketika pelbagai hal diubah jadi hitungan. Dengan itu didapatkan cara paling efektif mencapai tujuan. Dan dengan itu pula kemampuan dapat dihimpun secara progresif, makin lama makin bertambah. Modal, teknologi, kekuatan militer, kekuasaan politik.

Bukan kebetulan bila sejak saat Kant menyambut Pencerahan di Eropa, dari Eropa pula bangun imperialisme yang menindas bangsa-bangsa lain-yang oleh Kant tak dimasukkan ke hitungan. Di situ tak diakui bahwa setelah akal berkuasa, akal tak lagi sadar bahwa ada yang tak dapat dijangkaunya. Ada Entah yang diabaikan.

Hegel yakin mendekati ketakaburan bahwa yang rasional bertaut dengan yang wirklich, yang secara aktual ada. Ia yakin semua realitas dapat dinyatakan dalam kategori-kategori rasional. Ketika Hegel mengatakan bahwa Negara harus diperlakukan sebagai “struktur arsitektonis yang perkasa”, sebagai “hieroglif nalar”, ia melupakan bahwa ada Entah yang tak bisa diidentifikasi Negara.

Dalam konstelasi politik, Entah itu adalah mereka yang tak masuk hitungan. Ada “salah hitung”, yang oleh Rancière disebut le tort. Mereka yang di luar pagar itu-pagar bangunan Negara, pagar bangunan ilmu pengetahuan-bisa menunjukkan ada selalu yang tersisa dari yang direngkuh akal.

Dengan kata lain, sejarah Entah belum berakhir. Di wabah abad ke-14 kita mendengarnya dari catatan Marchionne di Coppo Stefani. Di abad ke-21 kita menyaksikannya dari kenyataan bahwa belum juga ada solusi untuk mencegah penyakit baru, konflik baru, ketidakadilan baru.

Ilmu dan agama memang mengklaim, “Akulah jawabannya.” Tapi mereka lupa apa pertanyaannya. Mereka lupa Entah.

Sumber contoh feature https://kolom.tempo.co/read/1317250/entah

Itu lah semua mengenai tentang feature lengkap dengan contoh feature. Jika dirasa kurang contoh feature pada artikel ini, kamu bisa cari contoh feature lain di media-media yang ada.

2 Comments

  • Ghaza Khairunnisa, 3 Juni 2020 @ 2:42 am Reply

    Seo km bagus bgt ya ampe nongol di first page. Kereeennn

  • Anneke Putrii, 28 Juli 2020 @ 9:45 pm Reply

    bagus artikelnyaaa, contoh nya juga bagus. biasanya, contoh feature di google, itu-itu aja. ini pake yang dari Tempo langsung. keren!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *