Dia sedang beromong kosong. Lantunan suara itu membuat dirinya terlihat semakin bodoh jika harus berhadapan denganku. Banyak korban atas perkataan dia. Sehingga itulah yang membuat dirinya terlihat cerdas di hadapan publik, bahkan disegani.

Aku bukan seorang psikolog maupun psikiater. Juga bukan seorang peretas. Setiap sisi manusia memiliki kelemahan. Hanya bagaimana manusia mengutarakannya sehingga kelemahan itu tertutup. Sayangnya, dia berlebihan.

Wanita Skotlandia akan meninggalkan pria yang tidak mampu bertindak. Tapi mengapa Aurine mempertahankannya? Oh ya, that guy has a talks power. Meskipun assetnya telah habis, dia tidak mempedulikannya. “Selamat pagi nona, kamu sudah siap bekerja?”

Ah, pagi ini adalah hari pertama kali aku bekerja. Tidak mungkin aku bersikap loyo di hadapan para karyawan ini. Aku seorang pemuda yang masih fresh. Pikiran kotorku tadi akan melemahkanku juga. Aku terlalu lelah melihat kejadian kemarin.

Transiton

Good morning, I am Namira. I am Planing and Financial position.” Perkenalan yang membosankan. Tapi aku tidak suka basa basi. Ini adalah perusahaan besar milik China. Perusahaan yang memiliki pemimpin tidak boleh diduduki oleh warga negara lain.

Aku suka jobdesk di sini. Aku tahu aku seorang budak, menuruti segala perintah. Jika tidak, tak ada makan malam hari ini. Tapi ini adalah awalanku. Arah jalanku menuju pantry tak sengaja membuat putaran bola mataku ke arah laki-laki sialan itu. Aku tak sangka dia menduduki di perusahaan ini juga. Tapi, lihatlah. Tak ada dedikasi  yang dia curahkan dalam pekerjaan ini. Hanya memakan gaji buta.

Sengaja ku mendekatinya dari belakang. Untung saja kantor ini berkonsep open plan offices, jadi aku bisa mengetahui apa yang dia lakukan. Letikkan jarinya mengarah rayuan ke wanita lain lewat gmailnya. Ini sudah kacau. Dia bersandiwara mengirimkan informasi kepada beberapa client, tapi ternyata tidak.

Pemecatan dan penceraian mungkin membuat Rey sengsara. Aku tidak yakin dia bisa bangkit kembali. Dia hanya bisa menangis dan menyesal. Tapi sayangnya, dia temanku sejak remaja. Dia tidak pernah mempelajari dari kesalahan. Penyesalan selalu berakhir penyesalan. Bahkan La Praire tak mampu menutupi bibirnya yang kusam itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *