Ini Dia Kepanjangan dari Singkatan “PLTMH”

Ini Dia Kepanjangan dari Singkatan PLTMH

PLTMH atau singkatan dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro merupakan teknologi yang memanfaatkan debit air di sekitar untuk dikonversi menjadi energi listrik.

Mekanismenya adalah aliran air menggerakan kincir selanjutnya energi mekanik ini menggerakkan generator dan menghasilkan listrik.

Pembangkit listrik PLTMH ini adalah salah satu alternatif untuk menjawab keterbatasan energi saat ini.

Pasokan energi yang cukup dan ramah lingkungan merupakan salah satu syarat untuk pembangunan sosial ekonomi yang berkelanjutan, namun dengan perkembangan/kemajuan ekonomi yang pesat, jumlah penduduk yang meningkat serta dengan konsumsi yang tinggi, Indonesia menghadapi masalah energi yang semakin meningkat.

Jika penggunaan bahan bakar fosil terus menjadi tren saat ini, maka kerusakan lingkungan lokal, regional dan global tidak akan terhindarkan.

Selain hal di atas, pemerintah juga menghadapi masalah krisis energi yang berkepanjangan, pemerintah (PLN) tidak dapat memberikan layanan ke daerah pedesaan yang terpencil dengan antisipasi ini, sejak tahun 2005, telah dilakukan kerjasama antara PLTMH – GTZ, PPK dan SofEI dalam memberikan pembangunan energi dan pembangkit listrik tenaga air (PLTMH) yang mudah dan murah kepada masyarakat, terutama di daerah terpencil, selama ini belum dilestarikan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Pada bulan Oktober 2005, survei bersama dilakukan di 20 desa/kelurahan di Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Dari 20 lokasi yang disurvei, 10 di antaranya dinyatakan layak secara teknis, ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan. Pada tahap pengembangan pertama (satu), masyarakat sudah bisa menggunakannya. Agar program dapat berkelanjutan, pada Mei 2006 telah dilakukan survey tahap II (dua) di 2 provinsi, 9 desa/kelurahan di Sulawesi Barat dan 1 desa/kelurahan di Sulawesi Selatan dan pembangunannya sudah dalam tahap akhir.

Berdasarkan kemajuan pelaksanaan, pembangunan fisik tahap dua (10 sepuluh desa/kelurahan) telah selesai pada Agustus 2007, yaitu dalam kurun waktu sekitar 2 (dua) tahun, telah dibangun 20 desa/kelurahan (19 lokasi di Provinsi Sulawesi Barat). dan 1 lokasi di Provinsi Sulawesi Barat, desa/lokasi di Provinsi Sulawesi Selatan), atau dengan perkiraan jumlah penerima manfaat sekitar 4.000 KK atau sekitar 20.000 jiwa, manfaat Utilitas ini tidak hanya terbatas tetapi juga dapat digunakan untuk irigasi dan perikanan, pendidikan, kemasyarakatan, industri rumah tangga, pemanfaatan teknologi, informasi dan lingkungan yang tepat serta dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dengan meningkatkan usaha ekonomi masyarakat pedesaan (produksi akhir).

Investasi jangka panjang

pltmh singkatan

Menginstal PLTMH tidak sulit. Hanya ada beberapa persyaratan fisik yang diperlukan untuk membangun PLTMH, yaitu bahwa PLTMH harus dibangun di daerah yang aliran airnya tersedia dalam ukuran tertentu dari TPA. Besar kecilnya outlet air akan menentukan besarnya daya yang dapat dibangkitkan. Rangkaian PLTMH kemudian membutuhkan turbin untuk memutar kumparan generator, generator untuk mengubah energi yang dihasilkan dari putaran turbin menjadi listrik, dan grid untuk menyalurkan listrik dari instalasi PLTMH kepada pengguna.

Dibandingkan dengan sumber energi lainnya, pembangkit listrik tenaga mikrohidro merupakan sumber energi yang sangat ekonomis dan mudah perawatannya. Nilai investasi untuk memproduksi pembangkit listrik tenaga mikro hidro, untuk menyalakan rata-rata 24 jam di sebuah desa, membutuhkan biaya Rp 20 juta hingga Rp 30 juta per 1000 watt. Biaya ini dikeluarkan hanya sekali dan dapat dipungut secara mandiri oleh masyarakat.

MHP benar-benar bebas minyak, jadi tidak ada emisi yang dihasilkan saat menggunakan teknologi ini. Oleh karena itu, penerapan mikrohidroelektrik merupakan upaya aktif untuk mengurangi laju perubahan iklim global. Selain itu, PLTMH dapat digunakan selama 24 jam tanpa gangguan. Salah satu daerah di Indonesia yang memanfaatkan PLTMH adalah masyarakat Desa Cibuluh yang terletak di Cagar Alam Gunung Simpang, Cianjut, Jawa Barat. PLTMH dibangun secara swadaya oleh masyarakat pada tahun 2005. Saat itu masyarakat berhasil mengumpulkan dana Rp 95 juta untuk membangun PLTMH berkapasitas 22KW.

Selain itu, daerah lain yang juga berhasil membangun PLTMMH adalah warga Desa Pelakat, Muara Enim, Sumatera Selatan. Pada tahun 2013, Al Azhar Peduli Ummat mendirikan PLTMH bekerjasama dengan PT Bukit Asam. Air yang digunakan untuk menggerakkan turbin adalah air irigasi desa. PLTMH menghasilkan 32 KW untuk 124 keluarga di desa tersebut. PLTMH dikelola secara mandiri oleh masyarakat dalam bentuk koperasi.

Pertumbuhan PLTMH merupakan investasi jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan. Fasilitas untuk PLTMH relatif murah, walaupun untuk membangun fasilitas tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit, namun dengan gotong royong masyarakat dapat membangun fasilitas tersebut dengan biaya yang terjangkau. Bagi lingkungan, penggunaan listrik dari PLTMH dapat mengurangi jumlah gas rumah kaca yang terbuang ke atmosfer, penyebab pemanasan global. Jadi dengan kata lain, menggunakan PLTMH adalah salah satu cara untuk mengatasi pemanasan global.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top
Scroll to Top