hildapohan Multiple learn.

Sejarah Krisis Asia 1997

1 min read

sejarah krisis asia 1997

Krisis Asia adalah periode krisis keuangan yang menerpa negara – negara di Asia pada Juli 1997 serta menimbulkan kepanikan bagi ekonomi dunia. Krisis ini bermula di Thailand seiring jatuhnya nilai mata uang BAHT yang telah menyeret jatuhnya nilai mata uang dan pasar modal negara-negara  tetangganya seperti Malaysia, Phillipina, Korea, dan Indonesia.

Hal ini mengakibatkan negara-negara yang terkena krisis untuk meminta bantuan lembaga  internasional seperti IMF dan World Bank.  Negara yang terkena dampak krisis terparah di Asia antara lain, Indonesia, Korea Selatan, dan Thailand.

Faktor Penyebab Krisis Asia 1997

  • Gelembung Kredit dan Nilai Tukar Tetap

Ekonomi negara – negara ASEAN dan beberapa negara lainnya  berkembang menjadi gelembung ekonomi yang digerakkan oleh  “dana panas” (dana yang masuk ke sebuah pasar hanya untuk keuntungan jangka pendek dan spekulatif). Penerapan nilai tukar tetap meningkatkan pinjaman luar negeri dan memperbesar keterpaparan risiko valuta asing di sector keuangan dan perusahaan.

  • Kepanikan Pemberi Pinjaman & Penarikan Kredit

Kepanikan yang terjadi di kalangan pemberi pinjaman memicu penarikan kredit besar-besaran dari negara  yang mengalami krisis. Hal ini mengakibatkan penyusutan kredit dan kebangkrutan.

Dampak Krisis Negara di Asia

  • Filiphina

Bank sentral Filipina menaikkan suku bunga sebesar 1,75% pada Mei 1997 dan 2% lagi pada 19 Juni 1997.

  • Hong Kong

Pada 15 Agustus 1997 seperti yang terjadi di  Filipina, suku bunga Hong Kong naik dari 8% ke 23% dalam waktu yang sangat singkat.

  • Korea Selatan

Angka Non Performing Loan atau NPL yang sangat tinggi mengakibatkan banyak perusahaan Korea Selatan mengalami jatuhnya nilai saham atau bahkan diakuisisi  oleh perusahaan lain.

  • Malaysia

Di Malaysia, negara ini mengalami defisit anggaran hingga 6%. Nilai Ringgit  Malaysia jatuh pada 17 Agustus 1997. Bursa Efek Kuala Lumpur jatuh 856 poin.

  • Indonesia

Rupiah menukik tajam  dari Rp.2000-  2300/US$ ke angka Rp.10.000/US$ dan Laju inflasi  pada tahun  1997 mencapai 45,5%. Selain itu, ketidakseimbangan  fungsi intermediasi  dalam kegiatan  perbankan sehingga tingkat  transaksi  berjalan produk domestik bruto  bersifat negative.

Kondisi Makroekonomi Indonesia

Indikator19972008
Pertumbuhan Ekonomi4,76,1
Inflasi45,511,06
Eksternal: Transaksi Berjalan(%PDB)
Utang Luar Negeri (%PDB)
-2,3
62,2
0,1
29,0
Fiskal Fiskal Balance (%PDB)
Public Debt (%PDB)
2,2
62,2
0,1
32
Perbankan Capital Adequacy Ratio (%)
Non-Performing Loan (%)
9,19
8,15
16,2
3,8
Source : LAPORAN BANK INDONESIA 2008

hildapohan Multiple learn.

Penyimpangan Sosial

Aji Reza M.
3 min read

Pasar dalam Perekonomian

Aji Reza M.
3 min read

Kebijakan Fiskal

Aji Reza M.
2 min read

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *