Wilayah kota menjadi sebuah implementasi kegiatan manusia yang terus berubah seiring waktu berjalan. Tahap perkembangan kota dimulai dari sebuah kelompok kecil yang  kemudian meningkat membentuk sebuah kelompok besar.

Dengan begitu desa bisa dikatakan sebagai asal muasal terbentuknya kota, meski kini manusia dapat membangun sebuah kota tanpa perlu mengawalinya dari sebuah desa.

Perencanaan kota terbukti menjadi bagian penting dari efisiensi ruang kota. Banyak orang tak terkecuali arsitek, profesor, maupun sejarawan, telah melakukan banyak studi untuk menemukan bagaimana sebuah kota harus diorganisir.

Menyusul penggunaan mobil dan telekomunikasi yang meluas para pemikir berpengaruh, seperti Lewis Mumford, Le Corbusier, Frank Lloyd Wright dan Kevin Lynch mengembangkan gagasan mengenai bagaimana sebuah kota modern harus berkembang. Masing-masing menegaskan definisi kota dan bagaimana bentuknya di masa depan.

ilustrasi kota

Definisi Perkembangan Kota Menurut Para Ahli

Lewis Mumford (1895-1990)

Dalam “What is a City?” tulisan Lewis Mumford (1895-1990), ia mendefinisikan tahap perkembangan kota lewat analogi dari seni pertunjukan: “kota laksana sebuah teater aksi sosial.”

Dia menggambarkan perlunya perencanaan sehingga bisa secara efektif membuktikan korelasi kota dengan lingkungan nasional dan nilai-nilai spiritual masyarakat di dalamnya, lebih dari sekedar desain fisik dan fungsi ekonomi.

Mumford  pun menjelaskan jika kepribadian multi-dimensi penduduk kota  terus berubah dan bagaimana mereka melampaui tampilan “tradisional” norma-norma sosial. Perencana perlu mengenali inti sosial kota dalam hubungan antar sekolah, teater, pusat komunitas dan semacamnya, sebab itulah yang menciptakan garis besar kota terpadu.

Mumford merekomendasikan pembatasan populasi, kepadatan dan pertumbuhan kota sehingga bisa menciptakan efisiensi. Mumford sangat terobsesi dengan Garden City karya Ebenezer Howard dengan karyanya di kota-kota berinti-poli.

Le Corbusier (1887-1965)

Le Corbusier yang lahir dengan nama Chales-Eduouard Jeanneret (1887-1965) di sebuah kota kecil di Swiss. Dia menjadi seorang arsitek dan membawa ide-ide revolusionernya ke Paris, di mana minimalisme dan efisiensi menjadi fokusnya.

Di sini Le Corbusier akhirnya mendapatkan gaya arsitektur yang berbeda yaitu gaya Internasional. Corbusier mengenalkan nilai-nilai elitis, dengan mendukung struktur kelas yang kaku, dan malah melangkah lebih jauh dengan menghancurkan Paris untuk kemudian dibangunnya kembali.

Dia melukiskan kota sebagai memiliki wilayah yang terpisah untuk bermacam kegunaan, dengan “paru-paru” ruang terbuka hijau di sekelilingnya. Ia menganggap jika kota-kota harus berkembang secara vertikal dan wajib memiliki jalan raya yang rumit yang terpisah dari lalu lintas pejalan kaki sehingga bisa mewujudkan sarana  transportasi yang efisien antar wilayah.

Frank Lloyd Wright (1867-1959)

Tak seperti Le Corbusier, Frank Lloyd Wright (1867-1959) mengusung arsitektur dari semangat dan demokrasi Amerika. Menurut banyak orang, selama lebih dari setengah abad ia merupakan satu-satunya arsitek Amerika termasyhur sepanjang masa.

Wright membangun dengan cara mengekspresikan “sifat bahan” dan menjadi ikon “arsitektur organik” yang diterapkan di Museum Guggenheim yang memukau.

Baca juga: Maksud Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa

Visi Broadacre City-nya mempunyai hubungan dengan kebajikan Emerson dan Jefferson, dan menyerukan transformasi radikal Amerika. Ia ingin menyediakan untuk setiap warganegara Amerika paling tidak 1 hektar tanah sehingga wisma keluarga akan menjadi dasar peradaban.

Kevin Lynch (1918-1994)

Kevin Lynch (1918-1994) merupakan profesor studi perkotaan dan desain di MIT. Karyanya The Image of the City, mengaplikasikan berbagai kaidah ilmu sosial, misalnya psikologi, dan karya bekas gurunya, Frank Lloyd Wright.

Lynch menyadari jika wilayah kota tertentu lebih “terbaca” dibanding yang lain sehingga karenanya lebih berguna. Ia berupaya mengerti dan menjelaskan dasar kota dan atribut apa untuk pengakuan mereka, sehingga akan menemukan cara terbaik dalam merancang penduduk kota.

Lynch mengidentifikasi lima elemen yang dibutuhkan seluruh kota sehingga menjadi bermanfaat dan efisien. Kelima elemen tersebut yaitu: jalur, tepi, simpul, tengara, dan distrik.

Sedangkan tiap-tiap elemen bisa mengambil bentuk yang berbeda, dia beranggapan jika kota yang menarik tak cuma teratur dan tertata secara baik, namun juga mesti jelas dan beragam bertekstur dan visual yang unik.

ilustrasi tahap

Tahap-tahap Perkembangan Kota

Lewis Munford membuat 6 klasifikasi tahap perkembangan kota dilihat dari aspek fisik dan budaya yang terdiri dari :

1. Kota Eopolis

Fase ini adalah permulaan pembentukan sebuah kota dengan ciri munculnya perkampungan. Aktifitas penduduk di tahap ini tetap berorientasi di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, dan juga pertambangan.

2.  Kota Polis

Era kota ini memiliki karakteristik adanya pasar di dalam perkampungan dan terbentuknya sektor usaha kecil. Efek industri di tahap ini masih belum cukup signifikan.

3. Kota Metropolis

Masa ini dicirikan dengan adanya struktur ruang kota yang telah berkembang. Pengaruh kota telah terasa sampai wilayah di seputarnya. Itu ditandai dengan adanya beberapa kota satelit atau wilayah penyokong kota utama.

4. Kota Megalopolis

Masa ini memiliki karakter khas tingkah-laku masyarakat yang mendiaminya yang cuma berfokus ke materi. Unsur birokrasi yang jahat dengan standar produk yang makin dianggap segalanya. Tahap Megalopolis ini misalnya Kota Paris di abad 18 atau kota New York di permulaan abad 20.

5. Kota Tiranopolis

Fase ini menjadi permulaan kehancuran sebuah kota. Situasi perdagangan dan pasar pun mulai anjlok.

6. Kota Nekropolis

Tahap perkembangan kota terakhir  ini dijuluki pula dengan the city of dead, ialah kerusakan sepenuhnya kota disebabkan bermacam faktor misalnya adanya  peperangan, bencana, kelaparan maupun sistem tata kota yang jelek. Kenyamanan tak diperoleh lagi di kota.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *